Showing posts with label Poems/lyrics/prose. Show all posts
Showing posts with label Poems/lyrics/prose. Show all posts

Friday, August 2, 2019

In an Alternate Reality, There'll Be Us

Apakah kau percaya bahwa ada kenyataan lain di luar kenyataan yang tengah kita jalani?

Di antara kata demi kata yang senantiasa kutuliskan, terkadang terlintas pikiran mengenai batas-batas yang memisahkan antara imajinasi dan realita. Apakah di semesta ini ada suatu tempat dimana khayalan kita sejatinya nyata adanya? Apakah dunia yang kita ciptakan dalam kepala kita merupakan hal yang tak lebih maupun kurang nyata dari dunia di luarnya? Apakah imaji yang tercipta dalam kepalaku juga dapat disebut sebagai realita - tempat dimana kita tak pernah saling mengucapkan kata pisah?

Abaikan kalimat terakhir. Toh, dalam dunia ‘nyata’ pun, sejatinya kita tak pernah saling mengucapkan kata pisah.

Semua terjadi dengan sangat cepat. Entah pada hari, jam, menit, dan detik keberapa dalam hidupmu, kau memutuskan bahwa eksistensiku tak lagi signifikan dalam perkembanganmu. Kata-kataku tak lagi menjadi hal yang menenangkanmu di kala gundah. Keberadaanku di sisimu tak lagi menjadi hal yang kau jaga. Pesan-pesan rinduku tak lagi menjadi hal yang ingin kau gubris. Begitu saja. Aku tak relevan lagi.

Maka dari itu, biarlah jemari yang sudah lama berhenti menari di atas tuts papan ketik ini menciptakan dunia dimana ia ditakdirkan untuk bertautan dengan jemarimu. Merealisasikan ruang sekian dimensi dimana kau dan aku tak pernah saling mundur menjauhi satu sama lain. Hanya hari-hari penuh cinta dan kebahagiaan lah yang akan kita lalui bersama. Selamanya.

Thursday, November 29, 2018

Satu Arah

Bulan-bulan berlalu tanpa aksara
Kembang tak lagi senapas-sewarna
Kusangka ku t'lah mati rasa;
terlampau lelah meramu asa
yang lambat-laun 'kan pupus jua
Namun begitu sanubari terbasuh lara
saat tawamu tak lagi menggema
dalam sebuah cengkerama,
kurasa cukuplah sudah pertanda
bahwa padamu aku masih sama

29 November 2018

Wednesday, June 20, 2018

Upgraded, for the Worst

Growing apart.

He used to be everything to me; an ideal partner to talk about anything and everything that matters in life, and was basically the only person who could quite deal with the chaos in my mind. I never thought that four months without catching up with each other would drastically reduce the compatibility between someone and the person they once loved.

The worst part is that I still fall for the older version of him; the one that had seen and connected with my soul, conducted heart-to-heart conversations instead of boring, generic topics with an addition of lame jokes and forced laughters that happened between us lately. I never thought that it would feel this empty to miss a version of someone that no longer exists.

Monday, July 24, 2017

Sebuah Awal yang Baru

Lepas landas. Tatapanku menerawang, menyaksikan pesawat yang kutumpangi menjauh dari daratan kota kelahiranku. Dengan saksama kuperhatikan kumpulan bangunan di bawahku yang seakan mengecil hingga akhirnya hilang dari pandangan. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah rumahmu adalah salah satu dari petak kecil di bawah sana.

Suatu perasaan asing muncul di hatiku. Beberapa hari ke depan aku akan terus bersua dengan puluhan orang yang senasib denganku, puluhan orang yang bisa kuajak berinteraksi kapan saja, kemanapun kami pergi. Tetapi entahlah, aku hanya ingin berbicara denganmu. Andai saja kau ada disampingku - saat ini, atau nanti saat aku menginjakkan kaki pada daratan kota rantau, atau besok saat aku akan mendatangi kampusku untuk kali pertama, atau pada hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun berikutnya - bepergian takkan terasa seberat ini. Suara pengumuman dari awak kabin serta-merta membuyarkan lamunanku dan seketika aku tersadar bahwa semua itu tinggallah angan-angan belaka.

Kau sudah berbahagia di kota perantauanmu jauh-jauh hari. Sedangkan aku, masih disini sembari berusaha menelan pil pahit bertajuk kenyataan bahwa aku harus menjalani hari-hari berikutnya tanpamu. Dalam hati aku sepenuhnya sadar bahwa memang begitulah yang sudah seharusnya. Tak ada yang bisa memaksa seseorang untuk terus berada di sisinya, dan apapun yang dilakukan hanya atas dasar keinginan sepihak tidak akan pernah bisa berujung pada kata bahagia. Kurasa berpisah memang jalan yang terbaik bagi kita berdua. Memulai hidup baru, berkenalan dengan rekan baru, menaruh perasaan pada orang baru, berbahagia tiada tara dengan kekasih baru. Lalu mungkin, suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali sebagai sepasang teman lama yang tak pernah kehabisan bahan cerita. Bukan sebagai dua orang yang salah satunya ingin memiliki yang satu lagi selamanya, namun perasaannya tak pernah bisa terbalas.

Sekali lagi kulayangkan pandanganku pada pemandangan di balik jendela. Langit cerah seakan berbahagia menyambut kehidupan baruku tanpamu. "Mungkin memang sudah saatnya," pikirku, "sudah saatnya aku merelakanmu." Seketika itu jugalah langit penghujung Juli menjadi saksi keputusanku untuk kembali membahagiakan diri sendiri seperti yang mampu kulakukan sebelum aku sempat mengenalmu. Meski terasa berat. Meski pikiranku terus kembali pada masa-masa dimana kita selalu bersama. Meski hatiku masih tertinggal di bawah sana.

Yogyakarta, 24 Juli 2017