Monday, July 24, 2017

Sebuah Awal yang Baru

Lepas landas. Tatapanku menerawang, menyaksikan pesawat yang kutumpangi menjauh dari daratan kota kelahiranku. Dengan saksama kuperhatikan kumpulan bangunan di bawahku yang seakan mengecil hingga akhirnya hilang dari pandangan. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah rumahmu adalah salah satu dari petak kecil di bawah sana.

Suatu perasaan asing muncul di hatiku. Beberapa hari ke depan aku akan terus bersua dengan puluhan orang yang senasib denganku, puluhan orang yang bisa kuajak berinteraksi kapan saja, kemanapun kami pergi. Tetapi entahlah, aku hanya ingin berbicara denganmu. Andai saja kau ada disampingku - saat ini, atau nanti saat aku menginjakkan kaki pada daratan kota rantau, atau besok saat aku akan mendatangi kampusku untuk kali pertama, atau pada hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun berikutnya - bepergian takkan terasa seberat ini. Suara pengumuman dari awak kabin serta-merta membuyarkan lamunanku dan seketika aku tersadar bahwa semua itu tinggallah angan-angan belaka.

Kau sudah berbahagia di kota perantauanmu jauh-jauh hari. Sedangkan aku, masih disini sembari berusaha menelan pil pahit bertajuk kenyataan bahwa aku harus menjalani hari-hari berikutnya tanpamu. Dalam hati aku sepenuhnya sadar bahwa memang begitulah yang sudah seharusnya. Tak ada yang bisa memaksa seseorang untuk terus berada di sisinya, dan apapun yang dilakukan hanya atas dasar keinginan sepihak tidak akan pernah bisa berujung pada kata bahagia. Kurasa berpisah memang jalan yang terbaik bagi kita berdua. Memulai hidup baru, berkenalan dengan rekan baru, menaruh perasaan pada orang baru, berbahagia tiada tara dengan kekasih baru. Lalu mungkin, suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali sebagai sepasang teman lama yang tak pernah kehabisan bahan cerita. Bukan sebagai dua orang yang salah satunya ingin memiliki yang satu lagi selamanya, namun perasaannya tak pernah bisa terbalas.

Sekali lagi kulayangkan pandanganku pada pemandangan di balik jendela. Langit cerah seakan berbahagia menyambut kehidupan baruku tanpamu. "Mungkin memang sudah saatnya," pikirku, "sudah saatnya aku merelakanmu." Seketika itu jugalah langit penghujung Juli menjadi saksi keputusanku untuk kembali membahagiakan diri sendiri seperti yang mampu kulakukan sebelum aku sempat mengenalmu. Meski terasa berat. Meski pikiranku terus kembali pada masa-masa dimana kita selalu bersama. Meski hatiku masih tertinggal di bawah sana.

Yogyakarta, 24 Juli 2017

0 comments:

Post a Comment