Showing posts with label Dedications. Show all posts
Showing posts with label Dedications. Show all posts

Wednesday, April 22, 2020

"Pahit" dan "Pelik": Dedikasi untuk Pertemanan yang Tak Pernah Mati

Vir, Von, Djar, this one's for you.

Sahabat SMA yang bertahan hingga kuliah memang biasa. Namun, kelompok pertemanan yang terbentuk setahun-dua tahun setelah pisah kampus terasa seperti konspirasi semesta.

Setidaknya begitulah yang aku pikirkan tentang pertemananku dengan tiga orang hebat yang merupakan teman-temanku di SMA. Tepatnya, teman-temanku di Klub Bahasa Inggris atau CIBI English sekolah kami.

Sebenarnya masing-masing dari mereka bukanlah orang asing. Ketiganya merupakan teman dekatku, namun dari lingkaran yang berbeda-beda. Davon, teman SD yang mulai akrab sejak SMA hingga kuliah. Fadjar, pecinta musik dari IPS yang lama-kelamaan menjadi teman bercerita paling asyik. Savira, teman SMP hingga SMA, orang yang sempat menjadi tempat curhat utamaku meski berada di kelas akselerasi. Oh, ya, ketiganya merupakan anggota divisi Speech dari CIBI English, para orator ulung. Hanya saja, ide untuk membuat sebuah geng bersama anak Debate merangkap Scrabble sepertiku terasa absurd andai kau tidak mengetahui kisahnya.

Semua berawal dari buka bersama CIBI English yang terjadi setahun setelah kami lulus. Ms Moniek, guru Bahasa Inggris kami dari Amerika, saat itu tengah berkunjung kembali ke Pekanbaru. Tentu saja kami sebagai anak CIBI yang sangat akrab dengannya sangat antusias untuk berkumpul dan menemuinya.

Parsley, 12 Juni 2018. Petang hingga malam itu kami lalui dengan penuh sukacita. Ms Moniek yang memang baik hati dan pengertian lantas memberi masing-masing dari kami oleh-oleh dari Amerika. Untukku, beliau memberiku bookmark magnetik karena beliau tahu aku senang membaca. She knows me too well! Tentu saja aku sangat menyukainya (Ms Mo, if you're reading this, I love you!!). Kemudian, tentu saja dilanjutkan dengan sesi foto-foto dan selfie. Aku ingat saat itu kami agak kesulitan karena kami cukup ramai dan pencahayaannya pun sedang kurang bagus karena sudah malam. But still, we had lots of fun.

Hingga tibalah momen yang secara tidak langsung mengubah hidupku hingga sekarang. Entah bagaimana mulanya, aku, Savira, Fadjar, dan Davon sepakat untuk pergi ngopi berempat setelah semua bubar. Kebetulan, saat itu Savira dan Fadjar sama-sama membawa mobil. Akhirnya dengan agak terburu-buru kami masuk mobil sesuai pembagian yang kami buat; aku bersama Savira, Davon bersama Fadjar. Entah kenapa, saat itu we got a feeling bahwa kami hanya ingin menghabiskan sisa hari itu berempat saja. Maybe the chemistry was already set back then.

If love at the first sight exists, does friendship in the first hangout do too? Karena entah kenapa, saat kami berempat akhirnya berkumpul di mobil Savira dan menyeruput minuman dari Kulo, kami langsung merasa sangat nyambung. As far as I can remember, it feels like we've been a group for so long. Langsung saja malam itu menjadi malam penuh tawa dan, oh ya, penuh gibah juga tentunya (ups). Pokoknya, it was a really great start for a friendship.

Setelah malam itu, tentu saja pertemanan kami tidak langsung bubar. Entah bagaimana akhirnya kami membuat multichat berempat dan berencana untuk hangout bareng lagi, yang terealisasikan kira-kira sebulan setelahnya, sebelum kami kembali ke perantauan masing-masing. Aku lupa berapa kali kami jalan bareng pada liburan itu, kurasa lebih dari sekali. But still, we talked, we laughed, we took snapshots in the photo box, we were happy. Entah bagaimana pertemanan yang baru saja dimulai itu akhirnya menjadi highlight dari liburan semester keduaku, dan ke depannya, salah satu highlight dari hidupku.

Di luar pertemuan langsung, kami jauh dari apa yang kalian bayangkan sebagai sebuah geng yang berinteraksi 24/7. But that's what makes every meeting interesting. Banyak hal yang berubah dalam kehidupan kami di antara setiap pertemuan, sehingga banyak pula cerita yang bisa kami sampaikan. Yah, tentu saja kami hanya bisa berkumpul saat libur semester karena aku dan Davon berada di Jogja, sementara Savira dan Fadjar di Bandung (sebenarnya Fadjar di Bandung coret, sih, tapi ya sudahlah ya).

Maka dari itu, kerap kali terjadi pergantian status saat kami akhirnya bisa bertemu lagi. Yang awalnya single, taken, single lagi? Ada. Yang awalnya taken lalu single? Ada. Yang single seumur hidup? Wah, ada juga tentunya. Tidak usah dirincikan siapa yang mana ya, hehe. But aside from that, tentu saja isi kehidupan dan pembicaraan kami tidak hanya tentang cinta-cintaan saja. Aku masih ingat pada suatu pertemuan yang agak maksa karena Savira sebenarnya sedang bersama keluarganya, Solaria Mal SKA menjadi saksi dari banyaknya masalah hidup yang kami hadapi dan keputusan-keputusan yang mesti kami ambil. Untungnya, masing-masing dari kami dapat membantu menawarkan solusi atau minimal empati pada setiap permasalahan yang kami masing-masing hadapi. It was such a quality talk, a quality time. Something I really appreciate these days.

Desember 2019 hingga Januari 2020 menjadi pengingat bagi kami bahwa masing-masing dari kami memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Pada masa itu, meski kami sama-sama sedang libur akademik, kami berempat berada di kota, bahkan negara, yang berbeda-beda. Savira yang sedang di New York bersama keluarganya. Fadjar yang sedang magang di Singapura. Davon yang sedang exchange di Penang. Dan aku, yang sedang magang di Riau. Masing-masing dari kami sibuk dengan urusan masing-masing, nyaris pasrah pada kenyataan bahwa kami tidak bisa berkumpul pada liburan kali ini. "Bagaimana jika kami sudah lulus nanti, ya?" Pikirku suatu waktu.

But miracles do happen. Perhaps the stars were aligned. Maybe God has a plan. Suatu hari di penghujung liburan, tiba-tiba saja Savira mengabarkan bahwa dia akan pulang ke Pekanbaru. Kira-kira begini isi percakapannya;

Savira: "Besok aku ke Pekanbaru! Tapi aku cuma sampe Senin depan..."
Fadjar: "Aku pun dah pulang, HAHA"
Savira: "Kau di PKU juga Jar?"
Fadjar: "Iya di PKU, Nangor Jumat depan"
Aku: "Jumat ini ketemu gimana?"
Davon: "Aku bisaa"
Savira: "HAYUK, kok pas banget sih wkwk"
Davon: "Hayuklahh gass!"
Fadjar: "Jumat? Maaf ya we"
Kami: "Hah kenapa..."
Fadjar: "... Aku bisa"
Aku: "******"

Setelah berbagai revisi dalam perencanaan, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu hari Sabtu sore di Living World. Aku yang masih magang di Kerinci saat itu dengan semangat mengangkut bawaanku ke bus tujuan Pekanbaru, siap untuk langsung menemui teman-temanku. Benar saja, setelah aku tiba dan beristirahat sebentar di rumah, Fadjar dan Davon pun datang menjemputku dengan mobil Fadjar. Setelah itu, barulah kami pergi menjemput Savira di rumahnya.

Seusai sesi nyanyi Lover is a Day bersama Fadjar yang sering kuledek sad boi serta ramah-tamah dengan mama Savira, akhirnya kami meluncur ke Living World. Semua cerita menarik berusaha kami tahan agar disampaikan nanti saat kami sudah duduk makan saja. Setelah memilih tempat makan serta makanan yang akan kami santap, barulah akhirnya kami meletakkan ponsel masing-masing di tengah meja dan saling lempar siapa yang mesti bercerita duluan.

"Si Azz semangat naruh hapenya duluan, kaulah cerita dulu Azz..."
"Ha, kok aku pulak? Savira tu lah, kan dia yang paling bikin kepo!"
"Ehh nggaklah..."

Begitu terus, hingga akhirnya giliran pertama bercerita jatuh pada Savira. Cukup menarik memang kisah mahasiswa berprestasi STEI ITB ini, sayang kalian tidak dapat mengetahuinya, hehe. Pokoknya, aku, Fadjar, dan Davon sangat absorbed pada ceritanya dan menyimak dengan serius.

"Ya, gitulah ceritanya," rangkum Savira akhirnya sembari menyeruput tehnya. "Pahit, sih, memang..."

Hening sejenak.

"Tehnya, Vir?"

"Hah?"

"Hah?"

Savira memandang kami kebingungan, hingga akhirnya tertawa. "Maksud aku keadaan... Tapi iya sih dua-duanya..."

Akhirnya kami tergelak bersama atas ke-absurd-an yang baru saja terjadi. Duh, memang tipikal kami, ada saja yang bisa ditertawakan setelah suasana serius. Akhirnya, setelah Savira menyelesaikan ceritanya, dengan agak terpaksa aku menyampaikan ceritaku yang sebenarnya tak kalah seru. Davon yang sudah tahu jalan ceritanya pun meraih ponselnya, sementara Savira dan Fadjar menyimak dari awal sampai akhir. Cerita pun masih berlanjut bahkan saat kami akhirnya sudah di mobil untuk ke tujuan lain kami hari itu.

"Begitulah keadaan Azzahra nih, memang pelik," ujar Davon untuk yang kesekian kalinya, sampai-sampai aku, Savira, dan Fadjar selalu tertawa jika Davon mengucapkan kata itu lagi. Duh, pelik!

Akhirnya, kami menghabiskan waktu hingga tengah malam bersama-sama, dan diantar dengan selamat oleh Fadjar ke rumah masing-masing tentunya. Banyak sekali keseruan yang terjadi selain cerita-cerita kami yang ngawur; masuk ACE Hardware cuma untuk numpang foto, berfoto lagi di sudut lain mal, mengobrol seru dan memutar lagu di mobil, makan sate padang di Sate Bundo Kanduang yang sudah lama diidamkan, hingga akhirnya duduk di KFC untuk melanjutkan sesi cerita hingga tengah malam. It was a really meaningful meeting. Sepanjang pertemuan itu, aku berkali-kali bersyukur diberi kesempatan untuk berkumpul dan berbagi suka-duka dengan orang-orang yang aku sayangi itu.

Kini, meski sama-sama berada di Pekanbaru, mau tak mau kami harus menahan diri untuk tidak bertemu satu sama lain dikarenakan pandemi yang sedang berlangsung. Memang pahit dan pelik, ya. Untungnya, di sela-sela kesibukan kami selama swakarantina ini, kami sempat mengobrol lewat Zoom sebelum Davon mengeluarkan titah untuk menghapus aplikasi tersebut (ya, kurasa kalian tahu sendiri kenapa). Seperti biasa, kami sedikit banyak membicarakan kisah hidup masing-masing, saling mengomentari dan mencari apa yang bisa ditertawakan dari pahit dan peliknya kehidupan serta kebodohan-kebodohan kami.

"Dahlah, intinya kita berempat sama-sama bongak," ujar Fadjar akhirnya. Entah kenapa kami bertiga setuju.

Saat menuliskan ini semua, aku jadi sadar betapa aku merindukan ketiga temanku itu dan betapa berharganya waktu yang bisa kami habiskan bersama. Kini pulang ke Pekanbaru terasa tak lagi sama tanpa pertemuan dengan mereka, dan meski teknologi dapat memudahkan kami dalam meraih satu sama lain, tentu saja semua itu tidak ada tandingannya dengan saat-saat dimana kami duduk berempat dan saling mendengarkan cerita masing-masing tanpa kewajiban yang mesti dikerjakan. Semoga saja setelah semua ini usai, hubungan kami makin erat dan tiap pertemuan akan semakin hangat. I have faith that everything is gonna be okay between us.

Untuk Savira, semangat kerja dan skripsiannya. Kau hebat. You're destined for great things, I'm sure of it. Let us know when we can catch up with you!

Untuk Fadjar, kau menyebalkan, tapi kau hebat. Semoga kisah kau selalu dapat menginspirasi kami. Semangat berkarya, ya, aku tunggu gebrakan dari kau.

Untuk Davon, sesekali kirim masakanmu ke kami, dong! Hehe, canda deng. Semangat terus belajar masaknya dan untuk segala hal yang dilakukan selama karantina!

Senang bisa mengenal kalian. Sampai jumpa segera!

9 Februari 2020, ACE Hardware, minus urat malu.

Tuesday, May 1, 2018

In Memory of a Late Friend

Everyone you meet has something to teach you.

This one's for you, Dim.

I still remember the first time I saw you more than a year ago. I was alone in class and you peeped in, asking me if I knew where Navisa was. I, being the clueless girl who was too indulged in her daydream, only muttered a quiet "no". I then discovered that you were one of Ega's - my best buddy - best buddies. That was when I decided that you were worth to get to know about, and eventually, be good friends with.

I still remember the first - and also ironically the last - time we hanged out together. I just arrived at Pekanbaru for my first ever semester holiday, and being a not-so-sociable person, I never expected anyone to get excited about my presence back in hometown. I never expected that anyone would even bother to welcome me back, let alone immediately ask me for a meet-up right after I arrived.

But you did. You were somehow really glad that I was finally home, asking me to go out and eat at some random place near our houses. We then finally asked Ega to join, and there I was; finally realizing that I had friends who actually cared enough to meet me and listen to my stories as soon as I came back from a long, tiring adventure far away from home. And for that, Dim, I'd forever be grateful.

You somehow always had the way to make me feel good about myself. You congratulated me when I got into UGM, even though we were not very close back then. You repeatedly implied that you were proud of me at the time, and also months later when my campus 'crush' noticed me (it might sound irrelevant, but it meant a lot - really, it did). Dim, if only you knew how proud I am to ever encounter a soul as beautiful as yours.

I've always believed that there's no such thing as coincidence when it comes to crossing paths with other people at some point of our lives. I hope you know I'm sorry for all the times when I just brushed your advices off. Now that you're gone, I just realized that there are lots of things I should've done. I haven't even thanked you for all the things you'd done for me, for all the times you made me feel like I matter. But for now, I hope my endless prayers would be enough to becalm you till Hereafter comes.

Love to you, eternally. You might be physically absent from this world, but the beauty of your soul will be something I'll always hold close to my heart. Goodbye for now.

Dimas Surya Dinata
May 18, 1999 - April 16, 2018

Friday, September 2, 2016

Tulisan Singkat tentang Scrabble (dan AEO)

15 Februari 2016, sekitar pukul 21:00 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, bersama rekan-rekan pemain Scrabble yang saat itu akan mewakili SMAN 8 dan SMKN 2 Pekanbaru dalam kompetisi Asian English Olympics (AEO) yang diselenggarakan oleh Universitas Bina Nusantara.

Tak terasa sudah lebih dari setengah tahun berlalu sejak kami, bocah-bocah SMA yang mencintai Scrabble, berangkat ke Jakarta untuk "bermain" disana. Ya, mungkin beberapa orang memandang kami sebagai sekumpulan bocah yang tergila-gila pada permainan anak-anak. "Cuma nyusun-nyusun kata doang, apa susahnya? Kalau pandai bahasa Inggris mah pasti bisa," tak jarang aku hanya dapat menanggapi komentar-komentar itu dengan senyuman, walau dalam hati sedikit kesal. Mungkin memang tidak semua orang cukup beruntung untuk dapat melihat keunikan permainan ini.

Aku tidak ingin menjelaskan lebih lanjut tentang detil-detil permainan Scrabble, namun satu hal yang aku cintai dari permainan ini adalah bagaimana ia dapat mempertemukan orang-orang dari lembaga pendidikan, kota, provinsi, dan bahkan negara yang berbeda. Melalui lomba Scrabble lokal, aku dapat mengenal kakak-kakak panitia dan partisipan yang umumnya anak SMA dan kakak-kakak kuliahan. Melalui perlombaan Scrabble-lah kebanyakan orang mencoba berteman dan bercengkerama dengan orang-orang yang tadinya berada di sisi lain papan sebagai lawan.


Thanks to Agung (Samarinda, sekarang mahasiswa UMN) for the awesome shot!

Bagaimana dengan AEO? Hal istimewa pertama yang kudapat dari AEO adalah berlatih dan berangkat bersama berbagai institusi di Pekanbaru demi mengikuti perlombaan ini. Aku dan adik kelasku dari SMAN 8 bergabung dengan rombongan yang terdiri dari murid-murid SMKN 2 dan SMA Muhammadiyah 1 serta mahasiswa UIN SUSKA dan UNRI. Perbedaan tidak menghalangi kami untuk mengakrabkan diri. Pagi, siang, sore, malam selalu ada obrolan, canda-tawa, ledekan, dan bahkan argumen di antara kami, entah itu di bandara, di bus pulang-pergi, di Binus Square, di tempat makan yang dekat dengan penginapan, dan tempat-tempat lain yang kami kunjungi bersama. (Rindu deh sama Erlangga, Alvin, Nazi, Ardi, Praset, Iqbal, Aryo, Bang Deni, Bang Nanda, sama Kak Yasmin. Kapan ikut lomba bareng lagi? 😢)


Dari kiri (yang pakai baju biru) ke kanan: Alvin, Bang Deni, Prasetyo, Ardiansyah, Nazifah, Iqbal, Erlangga, Aryo, Aku, Bang Nanda. (Kak Yasmin sudah pulang duluan karena suatu perihal)

Selain menyatukanku dengan berbagai rekan dari Pekanbaru, melalui AEO-lah aku dapat berkenalan dengan beberapa kakak mahasiswa Binus selaku panitia acara, dan tentu saja dengan peserta-pesertanya yang datang dari berbagai kota di Indonesia (Pekanbaru, Jakarta, Samarinda, Palembang, Bengkulu, Lampung, dsb) dan bahkan dari negara lain (Filipina, Malaysia, dsb). Bahkan hingga kini, ada beberapa teman yang masih sering mengobrol denganku melalui media sosial. Kuharap kita bisa bertemu lagi di lomba-lomba lainnya. :)

Dan terakhir, yang membuat AEO tak bisa kulupakan, ialah karena AEO telah mengajarkanku bahwa tak selamanya kemenangan menjadi tolak ukur kebanggaan dan kebahagiaan. Memang, melalui AEO aku bertemu dengan pemain-pemain Scrabble terbaik Indonesia dan sadar bahwa kemampuanku masih sangat, sangat jauh di bawah mereka. Namun dari kekalahanku, aku dapat belajar banyak hal dan terus bersemangat mengembangkan kemampuan yang aku miliki. "You win some, you lose some, but you should learn all the time", itulah pelajaran yang kudapatkan setelah berkali-kali dikalahkan oleh lawan yang berada di sisi lain papan permainan. Technically, I lost the competition, but I'm proud of what I've become afterwards.


Peserta dan panitia AEO 2016, di-take 2 kali karena gak muat semuanya dalam satu foto. Hayo aku yang mana
Beberapa foto di hari terakhir pelaksanaan Scrabble AEO 2016

Saat ini aku sudah duduk di kelas 12, dan sepertinya tidak bisa lagi memfokuskan diri pada Scrabble untuk setahun mendatang. Ada banyak hal yang lebih pantas untuk diprioritaskan, sehingga mau tak mau aku harus mengesampingkan keinginan untuk bermain Scrabble jauh-jauh lagi. Rindu? Tentu saja aku sangat merindukan suasana latihan, kompetisi, dan kebersamaan yang diciptakan oleh permainan papan yang "sederhana" itu. Namun kuharap, suatu hari nanti, aku dapat kembali ke dunia Scrabble dan menekuninya lagi... kemudian berlomba mewakili universitas manapun yang mau menerimaku sebagai mahasiswanya. Aamiin.


**************************

Di tulisan (tidak) singkat berikutnya, mungkin aku akan menceritakan secara spesifik tentang orang-orang terpenting yang pernah kukenal dari dunia Scrabble, yakni seluruh anggota CIBI English Divisi Scrabble. Mereka adalah:


  • Kak William Chandra. Kakak yang biasa dipanggil Kak Will atau kak WC ini merupakan pendiri divisi Scrabble di CIBI English SMAN 8 Pekanbaru. Sekarang, Kak WC telah melanjutkan pendidikannya di ITB.
  • Maharani Ayuputeri Wijaya, yang biasa dipanggil... Pret. Pret adalah murid kelas akselerasi, yang membuatnya lulus lebih cepat dari anak-anak seangkatannya. Saat ini, Pret sedang menjalani ospek di kampus barunya, UNAIR.
  • Agam, Bita, Dodo, dan Isan, teman-teman seangkatanku yang kini tengah duduk di tingkat akhir SMA.
  • Abi, Akbar, Erlangga, Fadli, Icha, Tito, dan Ravina, adik-adik kelasku yang meneruskan kepengurusan divisi, dan sedang fokus melatih adik-adik kelas 10.

Foto 1: 22 Mei 2015, bersama seluruh junior CIBI English Divisi Scrabble 2014/2015. Dari kiri ke kanan: Dodo, aku, Isan, Agam, Pret, Bita
Foto 2: November 2015, beberapa anggota Divisi Scrabble 2015/2016 dan pembina di perlombaan English Olympics (EO) 2015 yang diadakan oleh UIN SUSKA Riau.
Belakang (dari kiri ke kanan): Fadli, Akbar, Ma'am Falin, Icha
Depan (dari kiri ke kanan): Isan, Erlangga, Tito, Abi, aku, Bita, Ravina

Mungkin sebaiknya kusudahi saja tulisan singkat yang tampaknya sudah menjadi panjang ini. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, yang mungkin saja akan mengisahkan tentang orang-orang yang telah membuat masa SMAku menjadi sedikit lebih menyenangkan. :)

Sunday, February 1, 2015

Lima atau Sepuluh?

Aku lupa kapan pertama kalinya aku mengetahui, melihat, atau mendengar namamu. Rasa-rasanya aku pernah memandang wajah anak perempuan berambut lurus sang pemilik nama itu sepuluh tahun yang lalu. Rasa-rasanya pernah kulihat di daftar absensi kelas 1A yang tertempel di depan pintu, saat aku dan ibuku tengah mencari kelas pertama yang akan aku duduki semasa sekolah dasar. Rasa-rasanya pernah kudengar terucap dari mulut seorang teman kecil, entah siapa itu. Semua hanya memori samar.

Yang jelas teringat olehku hanyalah aku kecil yang dengan penuh rasa iri melihatmu maju ke depan saat upacara sebagai salah satu pemenang lomba mewarnai. Saat itu kita kelas 2 SD dan masih tak sekelas. Dengan kesal aku berpikir siapalah Adelia Salsabila Sudiana yang mengalahkan aku yang hebat ini.

Dan begitulah, kelas 3 dan 4 SD kujalani tanpa mengingat keberadaanmu lagi. Aku sibuk memerhatikan pelajaran, belajar, dan meraih peringkat pertama. Tak lagi kupedulikan tentang Adelia yang pernah menggagalkan ambisiku untuk menjadi juara di segala bidang yang aku minati.

Lalu tibalah saat itu. Kelas 5 SD. Saat akhir sekolah dasar sudah cukup dekat. Setelah lima tahun akhirnya nama kita tertera di kertas absensi yang sama. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah kau berpikir seperti itu juga.

Lantas apakah aku senang?

Tidak.

Keberadaanmu menggangguku. Maafkan aku, teman, namun aku pun kurang mengerti kenapa. Mungkin karena kau selalu dikelilingi teman-temanmu yang ramai, nyaris seluruh perempuan di kelas. Mungkin karena kau seringkali membuat lelucon dan tertawa, ceria sepanjang hari. Sangat berbanding terbalik dengan diriku yang dulu.

Aku masih ingat sosokmu yang memakai seragam kebanggaan SD Djuwita. Baju terusan dengan rok motif kotak-kotak dan tulisan "Djuwita" terselip diantaranya, ditambah rompi biru tua yang diatasnya terpampang logo sekolah. Rambutmu masih seperti terakhir kali aku melihatmu dulu, kurasa. Lurus tanpa poni. Di kepalamu seringkali tersemat bando berwarna hitam. Entah selalu hitam atau tidak, ingatanku tak sejauh itu.

Kau seorang yang pintar sejak kecil, meski aku tak begitu merasa tersaingi, karena peringkat satu selalu ada padaku. Ah, namun bukan berarti kau berhenti mengalahkanku. Suatu saat kepala sekolah kita masuk ke kelas untuk mengumumkan bahwa kau terpilih untuk mewakili sekolah mengikuti olimpiade IPA (Lucu, memang, mengetahui reaksimu tentang IPA sekarang). Aku masih ingat rasa kaget, sedih, dan iri yang bercampur aduk menjadi satu, rasa muakku saat kepala sekolah mengatakan suatu hal tentang stabilitas nilai, dan air mataku yang tergenang, siap meluncur di pipiku. Rasa tersaingi yang timbul semasa kelas 2 kembali menguasai diriku.

Kelas 6 SD ku melupakan semuanya. Lagi-lagi kita sekelas. Tak acuh, aku hanya fokus pada ambisiku untuk meraih nilai terbaik demi masuk ke SMP negeri yang aku idamkan.

Ternyata hidup ini memang tidak bisa kita duga-duga. Entah sejak kapan aku mulai benar-benar berbicara denganmu dan menemukan kenyamanan disana. Aku pun tak ingat apa saja yang kita obrolkan. Semua mengalir begitu saja. Ternyata kau juga suka menulis, sama sepertiku. Beberapa kali kita merencanakan sebuah cerita bersama. Tentang Venus Ethellins dan teman-temannya, tentang Autumn Verdugo dan rumah berhantu yang ditinggalinya. Aku masih ingat kover buku putih yang kita gunakan untuk menulis kisah Autumn. Apakah masih kau simpan?

Ada masa dimana aku berpikir kita tak akan bertemu lagi. Misalnya, saat kita akhirnya lulus sekolah dasar. Aku yang sempat turun peringkat di semester satu - dari peringkat satu yang tak terkalahkan menjadi peringkat tujuh - kembali merebut tahtaku dengan mendapat nilai Ujian Nasional dan nilai sekolah tertinggi di angkatan. Senyum tak dapat lepas dari bibirku yang menanti pergantian suasana di SMP negeri. Dan kau, entahlah, tampaknya juga begitu. Entah kenapa aku yakin kau tak akan satu sekolah denganku.

Namun sekali lagi, hidup ini memang tidak bisa kita duga-duga. Pada akhirnya, sesuai dengan permintaan ibuku, aku kembali menjalani masa-masa belajarku di sekolah swasta. SMP Darma Yudha. Sudahlah, terima saja apa yang terjadi. Dalam hati aku penasaran kau akan melanjutkan sekolah kemana.

"Azz, aku juga masuk Darma Yudha!" Pesanmu termpampang jelas diatas layar ponsel Nokia C3-ku, tiga setengah tahun yang lalu. Dasar, pikirku. Lagi-lagi satu sekolah denganmu.

Maka begitulah, kita sekelas lagi hingga dua tahun kemudian. Nilai-nilaimu meningkat, bersamaan dengan nilai-nilaiku yang menurun, hanya saja aku tak lagi memedulikan itu. Kurasa aku mulai berubah menjadi lebih terbuka, dibanding sebelum aku dekat denganmu. Perlahan tapi pasti sifat ambisius, arogan, dan perasaan tersaingiku dipudarkan oleh waktu.

Kelas 3 SMP kita tak lagi sekelas, namun sudah terlalu dekat untuk berhenti mengobrol dengan satu sama lain.

Dan SMA, yah lagi-lagi satu sekolah denganmu. Kau yang dulunya sempat berkata sekilas tentang keinginanmu untuk masuk IPA, kini ada di IPS. Dan aku yang bertekad kuat untuk masuk IPS, justru berada di IPA.

Pertemanan kita terasa sudah lama sekali. Namun, hal lain yang tak dapat kita pungkiri, segalanya juga terasa cepat berlalu.

Hidup memang aneh.

Atau mungkin, kita yang aneh.

---

Maka saat aku melihat inbox ask.fm-ku yang penuh dengan pertanyaan terabaikan, pandanganku tak lepas dari "pertanyaan" - yang cenderung ke "pernyataan" - yang kau kirimkan dengan maksud bercanda ini.

"Gak kerasa udah lima tahun aja ya," begitu katamu.

Lima tahun... Benarkah baru lima tahun berlalu?

Kemudian aku mulai menulis.