Aku lupa kapan pertama kalinya aku mengetahui, melihat, atau mendengar namamu. Rasa-rasanya aku pernah memandang wajah anak perempuan berambut lurus sang pemilik nama itu sepuluh tahun yang lalu. Rasa-rasanya pernah kulihat di daftar absensi kelas 1A yang tertempel di depan pintu, saat aku dan ibuku tengah mencari kelas pertama yang akan aku duduki semasa sekolah dasar. Rasa-rasanya pernah kudengar terucap dari mulut seorang teman kecil, entah siapa itu. Semua hanya memori samar.
Yang jelas teringat olehku hanyalah aku kecil yang dengan penuh rasa iri melihatmu maju ke depan saat upacara sebagai salah satu pemenang lomba mewarnai. Saat itu kita kelas 2 SD dan masih tak sekelas. Dengan kesal aku berpikir siapalah Adelia Salsabila Sudiana yang mengalahkan aku yang hebat ini.
Dan begitulah, kelas 3 dan 4 SD kujalani tanpa mengingat keberadaanmu lagi. Aku sibuk memerhatikan pelajaran, belajar, dan meraih peringkat pertama. Tak lagi kupedulikan tentang Adelia yang pernah menggagalkan ambisiku untuk menjadi juara di segala bidang yang aku minati.
Lalu tibalah saat itu. Kelas 5 SD. Saat akhir sekolah dasar sudah cukup dekat. Setelah lima tahun akhirnya nama kita tertera di kertas absensi yang sama. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah kau berpikir seperti itu juga.
Lantas apakah aku senang?
Tidak.
Keberadaanmu menggangguku. Maafkan aku, teman, namun aku pun kurang mengerti kenapa. Mungkin karena kau selalu dikelilingi teman-temanmu yang ramai, nyaris seluruh perempuan di kelas. Mungkin karena kau seringkali membuat lelucon dan tertawa, ceria sepanjang hari. Sangat berbanding terbalik dengan diriku yang dulu.
Aku masih ingat sosokmu yang memakai seragam kebanggaan SD Djuwita. Baju terusan dengan rok motif kotak-kotak dan tulisan "Djuwita" terselip diantaranya, ditambah rompi biru tua yang diatasnya terpampang logo sekolah. Rambutmu masih seperti terakhir kali aku melihatmu dulu, kurasa. Lurus tanpa poni. Di kepalamu seringkali tersemat bando berwarna hitam. Entah selalu hitam atau tidak, ingatanku tak sejauh itu.
Kau seorang yang pintar sejak kecil, meski aku tak begitu merasa tersaingi, karena peringkat satu selalu ada padaku. Ah, namun bukan berarti kau berhenti mengalahkanku. Suatu saat kepala sekolah kita masuk ke kelas untuk mengumumkan bahwa kau terpilih untuk mewakili sekolah mengikuti olimpiade IPA (Lucu, memang, mengetahui reaksimu tentang IPA sekarang). Aku masih ingat rasa kaget, sedih, dan iri yang bercampur aduk menjadi satu, rasa muakku saat kepala sekolah mengatakan suatu hal tentang stabilitas nilai, dan air mataku yang tergenang, siap meluncur di pipiku. Rasa tersaingi yang timbul semasa kelas 2 kembali menguasai diriku.
Kelas 6 SD ku melupakan semuanya. Lagi-lagi kita sekelas. Tak acuh, aku hanya fokus pada ambisiku untuk meraih nilai terbaik demi masuk ke SMP negeri yang aku idamkan.
Ternyata hidup ini memang tidak bisa kita duga-duga. Entah sejak kapan aku mulai benar-benar berbicara denganmu dan menemukan kenyamanan disana. Aku pun tak ingat apa saja yang kita obrolkan. Semua mengalir begitu saja. Ternyata kau juga suka menulis, sama sepertiku. Beberapa kali kita merencanakan sebuah cerita bersama. Tentang Venus Ethellins dan teman-temannya, tentang Autumn Verdugo dan rumah berhantu yang ditinggalinya. Aku masih ingat kover buku putih yang kita gunakan untuk menulis kisah Autumn. Apakah masih kau simpan?
Ada masa dimana aku berpikir kita tak akan bertemu lagi. Misalnya, saat kita akhirnya lulus sekolah dasar. Aku yang sempat turun peringkat di semester satu - dari peringkat satu yang tak terkalahkan menjadi peringkat tujuh - kembali merebut tahtaku dengan mendapat nilai Ujian Nasional dan nilai sekolah tertinggi di angkatan. Senyum tak dapat lepas dari bibirku yang menanti pergantian suasana di SMP negeri. Dan kau, entahlah, tampaknya juga begitu. Entah kenapa aku yakin kau tak akan satu sekolah denganku.
Namun sekali lagi, hidup ini memang tidak bisa kita duga-duga. Pada akhirnya, sesuai dengan permintaan ibuku, aku kembali menjalani masa-masa belajarku di sekolah swasta. SMP Darma Yudha. Sudahlah, terima saja apa yang terjadi. Dalam hati aku penasaran kau akan melanjutkan sekolah kemana.
"Azz, aku juga masuk Darma Yudha!" Pesanmu termpampang jelas diatas layar ponsel Nokia C3-ku, tiga setengah tahun yang lalu. Dasar, pikirku. Lagi-lagi satu sekolah denganmu.
Maka begitulah, kita sekelas lagi hingga dua tahun kemudian. Nilai-nilaimu meningkat, bersamaan dengan nilai-nilaiku yang menurun, hanya saja aku tak lagi memedulikan itu. Kurasa aku mulai berubah menjadi lebih terbuka, dibanding sebelum aku dekat denganmu. Perlahan tapi pasti sifat ambisius, arogan, dan perasaan tersaingiku dipudarkan oleh waktu.
Kelas 3 SMP kita tak lagi sekelas, namun sudah terlalu dekat untuk berhenti mengobrol dengan satu sama lain.
Dan SMA, yah lagi-lagi satu sekolah denganmu. Kau yang dulunya sempat berkata sekilas tentang keinginanmu untuk masuk IPA, kini ada di IPS. Dan aku yang bertekad kuat untuk masuk IPS, justru berada di IPA.
Pertemanan kita terasa sudah lama sekali. Namun, hal lain yang tak dapat kita pungkiri, segalanya juga terasa cepat berlalu.
Hidup memang aneh.
Atau mungkin, kita yang aneh.
---
Maka saat aku melihat inbox ask.fm-ku yang penuh dengan pertanyaan terabaikan, pandanganku tak lepas dari "pertanyaan" - yang cenderung ke "pernyataan" - yang kau kirimkan dengan maksud bercanda ini.
"Gak kerasa udah lima tahun aja ya," begitu katamu.
Lima tahun... Benarkah baru lima tahun berlalu?
Kemudian aku mulai menulis.
Sunday, February 1, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



Life is not strange, but we are the stranger. Do the best for other, so we can make life become more colourful! :)
ReplyDelete-FGW