Monday, September 9, 2019

Perihal Mengikhlaskan

I guess I'd rather stay moving on from better days
I miss my better ways, wish I never saw your face
but that's okay

(Sarah and the Sundays - Moving On)

Beberapa hari silam, aku menemukan sebuah lagu bertajuk Moving On dalam daftar putar Discover Weekly Spotify-ku. Karena sesuai dengan keinginanku saat ini - yakni mengikhlaskan suatu fase kehidupan dan terus bergerak maju - aku memutuskan untuk mendengar dan mencari liriknya. And I don't regret it.

"I guess I'd rather stay moving on from better days"; ingat, from, bukan towards. Hal ini menarik bagiku, karena biasanya hal klise yang dikatakan oleh orang lain saat seseorang telah memasuki fase gelap dalam kehidupan adalah 'nggak apa-apa, hari yang lebih cerah akan menantimu', 'Tuhan sedang menyiapkan hal yang lebih baik untukmu', dan sejenisnya, dan sebagainya.

Bukannya aku tak percaya bahwa hari-hari yang lebih bahagia akan tiba. Hanya saja, perlahan aku menyadari satu hal perihal mengikhlaskan; bahwa sejatinya kita harus menerima bahwa segala keindahan yang kita miliki, jalani, lalui dulu memang adalah nyata adanya. Hal itu adalah berkah dari Tuhan dan seluruh semestaNya, dan bukan suatu hal yang mesti dihindari, dilupakan, apalagi dianggap tidak pernah ada.

Aku bersyukur atas hari-hari indah yang pernah dihadiahi semesta padaku; atas segala kemudahan, semua gelak tawa, dan beragam rasa yang ditawarkan.

Maka saat segala kenikmatan itu ditarik dariku, aku hanya akan melambaikan tangan padanya sembari menyaksikannya keluar dari pintu kehidupanku. Berterima kasih bahwa suatu hal pernah terjadi, saat sebuah posisi pernah ditempati, saat seseorang pernah ada di sisi. Percaya bahwa semua memiliki makna dan pelajaran tersendiri yang tersisip di balik kepergiannya.

Kini saatnya menghadapi hari-hari yang lebih berat dengan sejumput rasa ikhlas. Karena memang begitulah adanya hidup; manis dan pahit silih berganti, tanpa tawar-menawar terhadap apa yang telah digariskan olehNya. Entah sampai kapan.

Friday, August 2, 2019

In an Alternate Reality, There'll Be Us

Apakah kau percaya bahwa ada kenyataan lain di luar kenyataan yang tengah kita jalani?

Di antara kata demi kata yang senantiasa kutuliskan, terkadang terlintas pikiran mengenai batas-batas yang memisahkan antara imajinasi dan realita. Apakah di semesta ini ada suatu tempat dimana khayalan kita sejatinya nyata adanya? Apakah dunia yang kita ciptakan dalam kepala kita merupakan hal yang tak lebih maupun kurang nyata dari dunia di luarnya? Apakah imaji yang tercipta dalam kepalaku juga dapat disebut sebagai realita - tempat dimana kita tak pernah saling mengucapkan kata pisah?

Abaikan kalimat terakhir. Toh, dalam dunia ‘nyata’ pun, sejatinya kita tak pernah saling mengucapkan kata pisah.

Semua terjadi dengan sangat cepat. Entah pada hari, jam, menit, dan detik keberapa dalam hidupmu, kau memutuskan bahwa eksistensiku tak lagi signifikan dalam perkembanganmu. Kata-kataku tak lagi menjadi hal yang menenangkanmu di kala gundah. Keberadaanku di sisimu tak lagi menjadi hal yang kau jaga. Pesan-pesan rinduku tak lagi menjadi hal yang ingin kau gubris. Begitu saja. Aku tak relevan lagi.

Maka dari itu, biarlah jemari yang sudah lama berhenti menari di atas tuts papan ketik ini menciptakan dunia dimana ia ditakdirkan untuk bertautan dengan jemarimu. Merealisasikan ruang sekian dimensi dimana kau dan aku tak pernah saling mundur menjauhi satu sama lain. Hanya hari-hari penuh cinta dan kebahagiaan lah yang akan kita lalui bersama. Selamanya.