Friday, September 2, 2016

Tulisan Singkat tentang Scrabble (dan AEO)

15 Februari 2016, sekitar pukul 21:00 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, bersama rekan-rekan pemain Scrabble yang saat itu akan mewakili SMAN 8 dan SMKN 2 Pekanbaru dalam kompetisi Asian English Olympics (AEO) yang diselenggarakan oleh Universitas Bina Nusantara.

Tak terasa sudah lebih dari setengah tahun berlalu sejak kami, bocah-bocah SMA yang mencintai Scrabble, berangkat ke Jakarta untuk "bermain" disana. Ya, mungkin beberapa orang memandang kami sebagai sekumpulan bocah yang tergila-gila pada permainan anak-anak. "Cuma nyusun-nyusun kata doang, apa susahnya? Kalau pandai bahasa Inggris mah pasti bisa," tak jarang aku hanya dapat menanggapi komentar-komentar itu dengan senyuman, walau dalam hati sedikit kesal. Mungkin memang tidak semua orang cukup beruntung untuk dapat melihat keunikan permainan ini.

Aku tidak ingin menjelaskan lebih lanjut tentang detil-detil permainan Scrabble, namun satu hal yang aku cintai dari permainan ini adalah bagaimana ia dapat mempertemukan orang-orang dari lembaga pendidikan, kota, provinsi, dan bahkan negara yang berbeda. Melalui lomba Scrabble lokal, aku dapat mengenal kakak-kakak panitia dan partisipan yang umumnya anak SMA dan kakak-kakak kuliahan. Melalui perlombaan Scrabble-lah kebanyakan orang mencoba berteman dan bercengkerama dengan orang-orang yang tadinya berada di sisi lain papan sebagai lawan.


Thanks to Agung (Samarinda, sekarang mahasiswa UMN) for the awesome shot!

Bagaimana dengan AEO? Hal istimewa pertama yang kudapat dari AEO adalah berlatih dan berangkat bersama berbagai institusi di Pekanbaru demi mengikuti perlombaan ini. Aku dan adik kelasku dari SMAN 8 bergabung dengan rombongan yang terdiri dari murid-murid SMKN 2 dan SMA Muhammadiyah 1 serta mahasiswa UIN SUSKA dan UNRI. Perbedaan tidak menghalangi kami untuk mengakrabkan diri. Pagi, siang, sore, malam selalu ada obrolan, canda-tawa, ledekan, dan bahkan argumen di antara kami, entah itu di bandara, di bus pulang-pergi, di Binus Square, di tempat makan yang dekat dengan penginapan, dan tempat-tempat lain yang kami kunjungi bersama. (Rindu deh sama Erlangga, Alvin, Nazi, Ardi, Praset, Iqbal, Aryo, Bang Deni, Bang Nanda, sama Kak Yasmin. Kapan ikut lomba bareng lagi? 😢)


Dari kiri (yang pakai baju biru) ke kanan: Alvin, Bang Deni, Prasetyo, Ardiansyah, Nazifah, Iqbal, Erlangga, Aryo, Aku, Bang Nanda. (Kak Yasmin sudah pulang duluan karena suatu perihal)

Selain menyatukanku dengan berbagai rekan dari Pekanbaru, melalui AEO-lah aku dapat berkenalan dengan beberapa kakak mahasiswa Binus selaku panitia acara, dan tentu saja dengan peserta-pesertanya yang datang dari berbagai kota di Indonesia (Pekanbaru, Jakarta, Samarinda, Palembang, Bengkulu, Lampung, dsb) dan bahkan dari negara lain (Filipina, Malaysia, dsb). Bahkan hingga kini, ada beberapa teman yang masih sering mengobrol denganku melalui media sosial. Kuharap kita bisa bertemu lagi di lomba-lomba lainnya. :)

Dan terakhir, yang membuat AEO tak bisa kulupakan, ialah karena AEO telah mengajarkanku bahwa tak selamanya kemenangan menjadi tolak ukur kebanggaan dan kebahagiaan. Memang, melalui AEO aku bertemu dengan pemain-pemain Scrabble terbaik Indonesia dan sadar bahwa kemampuanku masih sangat, sangat jauh di bawah mereka. Namun dari kekalahanku, aku dapat belajar banyak hal dan terus bersemangat mengembangkan kemampuan yang aku miliki. "You win some, you lose some, but you should learn all the time", itulah pelajaran yang kudapatkan setelah berkali-kali dikalahkan oleh lawan yang berada di sisi lain papan permainan. Technically, I lost the competition, but I'm proud of what I've become afterwards.


Peserta dan panitia AEO 2016, di-take 2 kali karena gak muat semuanya dalam satu foto. Hayo aku yang mana
Beberapa foto di hari terakhir pelaksanaan Scrabble AEO 2016

Saat ini aku sudah duduk di kelas 12, dan sepertinya tidak bisa lagi memfokuskan diri pada Scrabble untuk setahun mendatang. Ada banyak hal yang lebih pantas untuk diprioritaskan, sehingga mau tak mau aku harus mengesampingkan keinginan untuk bermain Scrabble jauh-jauh lagi. Rindu? Tentu saja aku sangat merindukan suasana latihan, kompetisi, dan kebersamaan yang diciptakan oleh permainan papan yang "sederhana" itu. Namun kuharap, suatu hari nanti, aku dapat kembali ke dunia Scrabble dan menekuninya lagi... kemudian berlomba mewakili universitas manapun yang mau menerimaku sebagai mahasiswanya. Aamiin.


**************************

Di tulisan (tidak) singkat berikutnya, mungkin aku akan menceritakan secara spesifik tentang orang-orang terpenting yang pernah kukenal dari dunia Scrabble, yakni seluruh anggota CIBI English Divisi Scrabble. Mereka adalah:


  • Kak William Chandra. Kakak yang biasa dipanggil Kak Will atau kak WC ini merupakan pendiri divisi Scrabble di CIBI English SMAN 8 Pekanbaru. Sekarang, Kak WC telah melanjutkan pendidikannya di ITB.
  • Maharani Ayuputeri Wijaya, yang biasa dipanggil... Pret. Pret adalah murid kelas akselerasi, yang membuatnya lulus lebih cepat dari anak-anak seangkatannya. Saat ini, Pret sedang menjalani ospek di kampus barunya, UNAIR.
  • Agam, Bita, Dodo, dan Isan, teman-teman seangkatanku yang kini tengah duduk di tingkat akhir SMA.
  • Abi, Akbar, Erlangga, Fadli, Icha, Tito, dan Ravina, adik-adik kelasku yang meneruskan kepengurusan divisi, dan sedang fokus melatih adik-adik kelas 10.

Foto 1: 22 Mei 2015, bersama seluruh junior CIBI English Divisi Scrabble 2014/2015. Dari kiri ke kanan: Dodo, aku, Isan, Agam, Pret, Bita
Foto 2: November 2015, beberapa anggota Divisi Scrabble 2015/2016 dan pembina di perlombaan English Olympics (EO) 2015 yang diadakan oleh UIN SUSKA Riau.
Belakang (dari kiri ke kanan): Fadli, Akbar, Ma'am Falin, Icha
Depan (dari kiri ke kanan): Isan, Erlangga, Tito, Abi, aku, Bita, Ravina

Mungkin sebaiknya kusudahi saja tulisan singkat yang tampaknya sudah menjadi panjang ini. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, yang mungkin saja akan mengisahkan tentang orang-orang yang telah membuat masa SMAku menjadi sedikit lebih menyenangkan. :)